Rabu, 15 Juni 2011

Wah, Ada mitos Tentang Donor Darah juga.. Bagaimana Menanggapinya?

Kompas.com — Donor darah merupakan niat yang sangat mulia. Namun, niat untuk membantu sesama tersebut sering kali luntur oleh berbagai kekhawatiran yang sebetulnya belum tentu benar. Simak penjelasan dari dr Udja Bachrussany, Kadiv Pengadaan Darah Unit Transfusi Darah Daerah DKI, dan dr Endang Peddyawati, SpGK, spesialis Gizi Klinik dari RS Persahabatan Jakarta, mengenai mitos dan fakta seputar donor darah.
Donor darah bikin gemuk? Tak sedikit orang yang mengurungkan niat untuk mendonorkan darahnya karena mitos yang mengatakan setelah donor darah tubuh akan menjadi gemuk. Menurut dr Endang Peddyawati, SpGK, secara teori, kegemukan terjadi karena jumlah kalori yang masuk lebih banyak dari yang dikeluarkan. "Jadi, tidak ada kaitannya dengan donor darah," ujar dokter yang biasa disapa Peddy ini.
Setelah mendonorkan darah memang biasa disediakan semangkuk bubur kacang hijau, mi atau telur rebus, dan segelas susu. Para pendonor memang disarankan untuk makan minimal empat jam setelah mendonorkan darah karena tubuh perlu menyesuaikan diri terhadap perubahan volume darah.
Membuat badan lemas Sebenarnya proses donor darah hanya mengambil 250-500 cc darah. Jumlah tersebut tidak akan berpengaruh banyak karena tubuh kita memiliki persediaan darah hingga 5.000 cc. "Tubuh memang bisa drop kalau setelah mendonorkan darah kita malas makan," imbuh dr Udja.
Wanita tidak boleh mendonorkan darah Pada dasarnya donor darah boleh dilakukan siapa saja, baik pria maupun wanita, sepanjang ia berbadan sehat dan memenuhi syarat kesehatan. Pada wanita, memang ada keadaan tertentu yang membuatnya tidak boleh mendonorkan darah, seperti sedang hamil, menyusui, atau sedang menstruasi.
"Pada saat hamil, secara fisiologis kadar hemoglobin dalam darah akan menurun karena ada penambahan volume darah. Demikian juga pada wanita yang sedang haid. Di luar, sepanjang sehat dan memenuhi syarat, wanita boleh mendonorkan darahnya," kata dr Udja.
Menimbulkan "kecanduan" Sekalipun proses donor darah dilakukan secara rutin, hal ini tidak akan mengubah proses metabolisme atau jam biologis tubuh. Jadi, tidak benar kalau disebutkan donor darah akan membuat tubuh jadi ketagihan. "Yang pasti donor darah membuat sehat," kata dr Udja.

Sumber : http://female.kompas.com/read/2010/07/01/10203777/Menguak.Mitos.dan.Fakta.Donor.Darah

Apa sih sebenarnya Manfaat Donor darah?

KOMPAS.com - Simbiosis mutualisme. Itulah yang akan kita rasakan jika kita melakukan donor darah, sebab setiap tetes darah yang kita sumbangkan tidak hanya dapat memberikan kesempatan hidup bagi yang menerima tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi pendonornya.

Anggapan yang menyatakan mendonorkan darah bisa membuat kita menjadi lemas adalah salah. Saat kita mendonorkan darah, maka tubuh akan bereaksi langsung dengan membuat penggantinya. Jadi, kita tidak akan mengalami kekurangan darah. Selain membuat tubuh memproduksi darah-darah baru, ada lima manfaat kesehatan lain yang bisa kita rasakan:

1. Menjaga kesehatan jantung
Tingginya kadar zat besi dalam darah akan membuat seseorang menjadi lebih rentan terhadap  penyakit jantung. Zat besi yang berlebihan di dalam darah bisa menyebabkan oksidasi kolesterol. Produk oksidasi tersebut akan menumpuk pada dinding arteri dan ini sama dengan memperbesar peluang terkena serangan jantung dan stroke. Saat kita rutin mendonorkan darah maka jumlah zat besi dalam darah bisa lebih stabil. Ini artinya menurunkan risiko penyakit jantung.

2. Meningkatkan produksi sel darah merah
Donor darah juga akan membantu tubuh mengurangi jumlah sel darah merah dalam darah. Tak perlu panik dengan berkurangnya sel darah merah, karena sumsum tulang belakang akan segera mengisi ulang sel darah merah yang telah hilang. Hasilnya, sebagai pendonor kita akan mendapatkan pasokan darah baru setiap kali kita mendonorkan darah. Oleh karena itu, donor darah menjadi langkah yang baik untuk menstimulasi pembuatan darah baru.

3. Membantu penurunan berat tubuh
Menjadi donor darah adalah salah satu metode diet dan pembakaran kalori yang ampuh. Sebab dengan memberikan sekitar 450 ml darah, akan membantu proses pembakaran kalori kira-kira 650. Itu adalah jumlah kalori yang banyak untuk membuat pinggang kita ramping.

4. Mendapatkan kesehatan psikologis
Menyumbangkan hal yang tidak ternilai harganya kepada yang membutuhkan akan membuat kita merasakan kepuasan psikologis. Sebuah penelitian menemukan, orang usia lanjut yang rutin menjadi pendonor darah akan merasakan tetap berenergi dan bugar.

5. Mendeteksi penyakit serius
Setiap kali kita ingin mendonorkan darah, prosedur standarnya adalah darah kita akan diperiksa dari berbagai macam penyakit seperti HIV, hepatitis B, hepatitis C, sifilis, dan malaria. Bagi yang menerima donor darah, ini adalah informasi penting untuk mengantisipasi penularan penyakit melalui transfusi darah. Sedangkan untuk kita, ini adalah "rambu peringatan" yang baik agar kita lebih perhatian terhadap kondisi kesehatan kita sendiri.

Setelah menginjak usia 18 tahun, cobalah untuk membiasakan diri mendonorkan darah setiap tiga bulan sekali. Tidak hanya akan memberikan perasaan yang senang karena dapat membantu sesama, namun bermanfaat positif bagi kesehatan tubuh kita sendiri. Dan usia maksimal untuk melakukan kebiasaan baik ini adalah hingga berusia 60 tahun. Jadi jangan tunggu lama lagi, ayo… saatnya donor darah!

 Sumber : http://female.kompas.com/read/2011/01/12/1820587/5.Manfaat.Jadi.Donor.Darah-12

Sabtu, 04 Juni 2011

Here it is the "Latar Belakang"


Indonesia adalah negara yang padat penduduknya. Jumlah penduduk Indonesia sekitar 240 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar, tetapi Indonesia masih kekurang stok darah. Sekitar satu juta kantong darah yang masih dibutuhkan Indonesia per tahunnya. Sekantong darah bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Darah merupakan komponen yang penting dalam tubuh manusia. Darah digunakan sebagai alat metabolisme yang mengedarkan zat-zat keseluruh tubuh. Kekurangan darah berarti kekurangan alat transportasi didalam tubuh. Sebagai pihak yang berwenang menggalang donor darah, PMI harus memenuhi permintaan empat sampai lima juta kantong darah per tahun. Darah itu digunakan untuk membantu orang yang kekurangan darah akibat kecelakaan, bencana alam, ataupun ibu melahirkan. Sementara itu, PMI masih kekurangan stok darah sekitar satu juta kantong per tahunnya. Jumlah kekurangan ini dihitung dengan asumsi penduduk Indonesia sebanyak 240 juta orang (2010).
Persediaan darah tersebut sangat dibutuhkan lantaran kondisi rawan bencana yang tengah melanda Indonesia. Selain bencana alam, kejadian kecelakaan dan konflik antar masyarakat juga membuat permintaan darah ke PMI meningkat. Selain itu, permintaan darah juga sering datang dari para pasien, misalnya untuk melakukan cuci darah. Akibat terparah dari kondisi ini adalah kematian seseorang. Kerap kali kita melihat berbagai peristiwa seperti kecelakaan, bencana alam, ibu melahirkan dan berbagai peristiwa dalam kehidupan kita, harus berujung dengan kematian hanya karena masalah darah. Keterlambatan pasokan darah, kelangkaan darah, kualitas darah yang sangat buruk dan sederet persoalan terkait dengan darah kerap dijumpai. Berbagai kendala di atas disebabkan karena fokus PMI hanya ke masyarakat kota. Penggalangan di desa-desa masih kurang.
Ini terbukti dari pembukaan gerai donor darah yang bertempat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Di Indonesia ada sekitar 70.000 desa. Jika peluang itu bisa dimanfaatkan, maka stok darah PMI akan bertambah dan bahkan tidak akan kekurangan lagi. Fakta ini didukung dengan data yang diperoleh oleh PMI Jawa Tengah menunjukkan kebanyakan pendonor darah berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Jumlahnya mencapai 35 persen dari total pendonor. Sedangkan pendonor dari kalangan pegawai negeri dan swasta menyumbang kebutuhan 21 persen, petani dan buruh sebesar 18 persen, wiraswasta 17 persen, anggota militer dan polisi sebesar tujuh persen dan masyarakat umum hanya dua persen.

Kamis, 02 Juni 2011

Selamat Dataaaang!

Welcome welcome ...
Ini adalah blog mengenai acara "1hero1blood". Proyek yang diprakarsai oleh Room Research Future Leader Summit. Acara ini merupakan action plan dari acara Future Leader Summit pada tanggal 22 Mei 2011 di Universitas Diponegoro kemarin. Ide ini berawal dari kegundahan kami atas tingginya tingkat kematian ibu melahirkan akibat pendarahan di Indonesia. Kurangnya jumlah kantong darah adalah sebab utama dari peristiwa tersebut . Apakah yang sebenarnya terjadi dengan persediaan kantong darah di Indonesia? Bagaimanakah nasib-nasib ibu melahirkan Indonesia? Apakah yang dapat kita lakukan sebagai pemuda Indonesia untuk mengatasi hal ini? Apa sih "1hero1blood" itu?
Penasaran?
Tunggu posting selanjutnya... ;)