Indonesia adalah negara yang padat penduduknya. Jumlah penduduk Indonesia sekitar 240 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar, tetapi Indonesia masih kekurang stok darah. Sekitar satu juta kantong darah yang masih dibutuhkan Indonesia per tahunnya. Sekantong darah bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Darah merupakan komponen yang penting dalam tubuh manusia. Darah digunakan sebagai alat metabolisme yang mengedarkan zat-zat keseluruh tubuh. Kekurangan darah berarti kekurangan alat transportasi didalam tubuh. Sebagai pihak yang berwenang menggalang donor darah, PMI harus memenuhi permintaan empat sampai lima juta kantong darah per tahun. Darah itu digunakan untuk membantu orang yang kekurangan darah akibat kecelakaan, bencana alam, ataupun ibu melahirkan. Sementara itu, PMI masih kekurangan stok darah sekitar satu juta kantong per tahunnya. Jumlah kekurangan ini dihitung dengan asumsi penduduk Indonesia sebanyak 240 juta orang (2010).
Persediaan darah tersebut sangat dibutuhkan lantaran kondisi rawan bencana yang tengah melanda Indonesia. Selain bencana alam, kejadian kecelakaan dan konflik antar masyarakat juga membuat permintaan darah ke PMI meningkat. Selain itu, permintaan darah juga sering datang dari para pasien, misalnya untuk melakukan cuci darah. Akibat terparah dari kondisi ini adalah kematian seseorang. Kerap kali kita melihat berbagai peristiwa seperti kecelakaan, bencana alam, ibu melahirkan dan berbagai peristiwa dalam kehidupan kita, harus berujung dengan kematian hanya karena masalah darah. Keterlambatan pasokan darah, kelangkaan darah, kualitas darah yang sangat buruk dan sederet persoalan terkait dengan darah kerap dijumpai. Berbagai kendala di atas disebabkan karena fokus PMI hanya ke masyarakat kota. Penggalangan di desa-desa masih kurang. Ini terbukti dari pembukaan gerai donor darah yang bertempat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Di Indonesia ada sekitar 70.000 desa. Jika peluang itu bisa dimanfaatkan, maka stok darah PMI akan bertambah dan bahkan tidak akan kekurangan lagi. Fakta ini didukung dengan data yang diperoleh oleh PMI Jawa Tengah menunjukkan kebanyakan pendonor darah berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Jumlahnya mencapai 35 persen dari total pendonor. Sedangkan pendonor dari kalangan pegawai negeri dan swasta menyumbang kebutuhan 21 persen, petani dan buruh sebesar 18 persen, wiraswasta 17 persen, anggota militer dan polisi sebesar tujuh persen dan masyarakat umum hanya dua persen.
Persediaan darah tersebut sangat dibutuhkan lantaran kondisi rawan bencana yang tengah melanda Indonesia. Selain bencana alam, kejadian kecelakaan dan konflik antar masyarakat juga membuat permintaan darah ke PMI meningkat. Selain itu, permintaan darah juga sering datang dari para pasien, misalnya untuk melakukan cuci darah. Akibat terparah dari kondisi ini adalah kematian seseorang. Kerap kali kita melihat berbagai peristiwa seperti kecelakaan, bencana alam, ibu melahirkan dan berbagai peristiwa dalam kehidupan kita, harus berujung dengan kematian hanya karena masalah darah. Keterlambatan pasokan darah, kelangkaan darah, kualitas darah yang sangat buruk dan sederet persoalan terkait dengan darah kerap dijumpai. Berbagai kendala di atas disebabkan karena fokus PMI hanya ke masyarakat kota. Penggalangan di desa-desa masih kurang. Ini terbukti dari pembukaan gerai donor darah yang bertempat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Di Indonesia ada sekitar 70.000 desa. Jika peluang itu bisa dimanfaatkan, maka stok darah PMI akan bertambah dan bahkan tidak akan kekurangan lagi. Fakta ini didukung dengan data yang diperoleh oleh PMI Jawa Tengah menunjukkan kebanyakan pendonor darah berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Jumlahnya mencapai 35 persen dari total pendonor. Sedangkan pendonor dari kalangan pegawai negeri dan swasta menyumbang kebutuhan 21 persen, petani dan buruh sebesar 18 persen, wiraswasta 17 persen, anggota militer dan polisi sebesar tujuh persen dan masyarakat umum hanya dua persen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar